INGAT!!! BUDAYA OCU ADALAH IDENTITAS KABUPATEN KAMPAR

Pentingnya Kebudayaan sebagai Identitas daerah di era Globalisasi

Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), John Ashe, mengatakan, marginalisasi masyarakat adat sepanjang sejarah masih merupakan realita di dunia. Badan PBB  menilai bahwa ketimpangan pembangunan terutama dalam melihat kenyataan kemiskinan masyarakat di desa-desa senantiasa dikaitkan dengan peminggiran wujud adat yang merupakan bagian kebudayaan suatu bangsa. Artinya peran kebudayaan sebagai identitas suatu masyarakat sangat menentukan kesejahteraan kaum atau masyarakat tersebut, terutama di era persaingan global yang tak bisa dibendung.

Bangsa kita sangat menggalakkan ragam kebudayaan yang berbhineka tunggal Ika yang seharus tidak membuat kita pesimis menhadapi persaingan bebas. Kita lihat misi pembangunan nasional yang ingin mewujudkan kehidupan sosial-budaya yang berkepribadian, dinamis, kreatif, dan berdaya tahan terhadap pengaruh globalisasi. Propinsi Riau menancapkan visi pembangunan mewujudkan Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis dan sejahtera sebagai landasan pembangunan daerah menuju masyarakat yang adil dan makmur. Kampar sendiri ingin mewujudkan Kampar Negeri Berbudaya, Berdaya Dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis. Kita Pantas berbangga jikakalau wacana ini bukan hanya diatas kertas, karna realita berbanding terbalik dari visi misi pembangunan yang sudah ditetapkan.
Peran Kebudayaan Menurut Dokumen Pemerintah Daerah
Dalam Visi Pembangunan Propinsi Riau dan Kabupaten Kampar 2025, terlihat jelas bahwa kebudayaan menjadi modal penting untuk menggerakkan perkembangan aktivitas ekonomi. Secara historis dan budaya lokal, potensi keragaman dalam tatanan Riau sangat tinggi. Riau memiliki beberapa potensi untuk berkembangnya keragaman budaya sehingga menghasilkan berbagai pilihan bagi masyarakat pada bidang kehidupan tertentu. Salah satu keragaman itu adalah budaya Masyarakat Ocu Kampar.
Seluruh komponen Kabupaten Kampar sendiri telah menetapkan visi kabupaten untuk menjadikan: “Kabupaten Kampar Negeri Berbudaya, Berdaya Dalam Lingkungan Masyarakat Agamis Tahun 2025” yang mengandung makna bahwa Kabupaten Kampar berkomitmen untuk menjadikan masyarakatnya:



  1. berbudaya, berlandaskan pemikiran logis yang berakal budi, dan menghormati serta menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadat yang dianut dan berlaku dalam masyarakat Kabupaten Kampar.
  1. Berdaya, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan guna menjadikan dirinya pesaing yang tangguh menghadapi persaingan global dan terpenuhinya kebutuhan manusia yang layak serta  diperlakukan secara adil.
  1. Agamis, selalu dilandasi nilai-nilai keagamaan, dengan harapan Kabupaten Kampar dapat menjadi Serambi Mekah di Propinsi Riau.
  1. Mewujudkan pembangunan nilai budaya untuk menghadapi tantangan global. Dengan memberdayakan nilai-nilai gotong royong   ( batobo ) serta usaha-usaha antisipatif, Serta menguatkan nilai-nilai musyawarah dan mufakat dalam menyelesaikan konflik .
  1. Meningkatkan manajemen dan kemampuan aparatur dalam mengelola aset daerah dan pelayanan masyarakat. Dengan Membangun e-government berbasis good governance yang amanah dan berkeadilan untuk mengelola  kekayaan yang dimiliki daerah, baik sumber daya alam, teknologi, budaya, dan adat istiadatnya.
  1. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang Sehat, menguasai Ilmu Pengetahuan  dan Teknologi serta  Berwawasan ke depan. Dengan memiliki mentalitas dan kemampuan dalam mengembangkan diri, dan berperan dalam membangun daerahnya; dan dapat menguasai dan mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat; serta berpikiran maju untuk mengembangkan diri dan memiliki wawasan kedepan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka memajukan daerah.
  1. Mengembangkan ekonomi rakyat yang berbasis sumber daya lokal dengan orientasi pada agrobisnis, agroindustri dan pariwisata serta mendorong pertumbuhan investasi secara terpadu dan terkait antar swasta, masyarakat, dan pemerintah baik berskala local, regional, nasional maupun internasional. Menguatkan lembaga dan organisasi ekonomi masyarakat yang berorientasi pasar yang dikembangkan agar tercipta kemampuan bersaing dan bermitra dengan pesaing pasar lainnya; Mengembangkan sistem dan jaringan data dan informasi serta promosi potensi Sumber Ekonomi; Membangun sentra perdagangan dan industri serta pariwisata yang berbasis teknologi; Mendorong pertumbuhan investasi melalui pola kemitraan yang sejajar dan proporsional antar swasta, masyarakat, dan pemerintah dalam bentuk kerja sama yang harmonis dan saling menguntungkan.
  1. Mewujudkan pembangunan kawasan seimbang yang dapat menjamin kualitas hidup secara berkesinambungan. dengan: Melakukan penataan ruang atau kawasan sesuai dengan peruntukkannya secara serasi, harmonis, terpadu, dan seimbang diselaraskan dengan daya dukung lingkungannya.
  1. Mewujudkan sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa menuju masyarakat agamis yang tercermin dalam kerukunan hidup beragama. Dengan : Taat melaksanakan dan mengamalkan ajaran dan aturan agama dan menjadikannya landasan moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; Meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik  aparat maupun masyarakat yang berlandaskan iman dan taqwa melalui jalur pendidikan, pelatihan dan pembinaan; Menciptakan lingkungan kehidupan yang bernuansa  agamis dalam berbagai aspek pembangunan.
  1. Pendekatan pembangunan berbasis identitas sudah asing bagi para perencana Pembangunan. Pembangunan lebih diartikan sebagai kegiatan fisik yang bebas nilai, bukan pembangunan manusia (dalam arti sebenarnya) dan kelembagaannya yang lebih berdimensi budaya.
  1. Keterbatasan wawasan para perencana pada khususnya aparat pemerintah. Laju perubahan dalam sistem perencanaan yang relatif sangat cepat (terutama dalam era Informasi) di samping belum sepenuhnya bebas dari cacat (metodologis, hukum dan lainnya).
  1. Identitas komunitas (termasuk identitas lembaga-lembaga) kemasyarakatan tradisional pada dasarnya sudah tidak kuat. Budaya dan kearifan lokal telah terkikis dari masyarakat yang hampir melupakan nilai-nilai budayanya secara murni, menggeser pemahaman nilai religious menjadi matrialistis. Kehidupan sehari-hari masyarakat hampir tidak dinafasi lagi oleh spirit budayanya.
  1. Persepsi masyarakat dan kalangan aparatur pemerintah yang belum sepenuhnya benar tentang fungsi dari identitas daerah.
  1. Kaitan lainnya karena rekruitmen dan penempatan jabatan structural belum sepenuhnya berdasarkan pada kompetensi seseorang. Di mana pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran tersebut masih belum optimal. Pelaksanaan pemerintahan daerah seharusnya berbasis pada identitas daerah yang merupakan modal spiritual (modal utama) dari suatu pembentukan tatanan.
  1. Gelombang ekonomi penentu diera globalisasi adalah Gelombang Ekonomi Kreatif
  1. Ekonomi Kreatif berlandaskan Ide/gagasan Kreatif berbasis Kekayaan Kebudayaan Sebagai Identitas suatu kaum atau masyarakat.
  1. Kehilangan asset kebudayaan mengakibatkan kehilangan daya saing  di era globalisasi yang berbuntut kehancuran dan musnahnya suatu kaum atau masyarakat.
  1. Kekayaan Budaya Lokal Ocu Kampar sebagai ragam kebudayaan Melayu Riau merupakan Potensi pencipta daya saing menghadapi pasar bebas.

Faktor Penghambat Kemajuan Daerah
Sektor ekonomi kreatif sebagai sumber pendapatan masyarakat menuju kesejahteraan tidaklah bisa dipandang sebelah mata. Ekonomi kreatif sangat penting bagi indonesia dan dunia karena perkembangannya yang pesat. Sesungguhnya ekonomi kreatif akan menjadi sektor ekonomi unggulan. Karena disamping sektor ini bisa mengembangkan diri secara cepat, ekonomi kreatif bisa mendorong, menopang dan menempel di pertumbuhan sector sektor perekonomian yang ada. Konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan  ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.
Kaitan Kebudayaan , Ekonomi Kreatif dan Era Globalisasi

Misi  Kabupaten Kampar antara lain :


Begitu Indah syair Dokumen pembangunan kita, dengan sangat terang menggariskan Kebudayaan adalah basis sesungguhnya Pembangunan yang dicita-citakan bersama.


John Howkins dalam bukunya “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” (2001) mendefinisikan Ekonomi Kreatif sebagai “penciptaan nilai sebagai hasil dari sebuah ide“. Di sini dalam ekonomi kreatif, terlihat bahwa ide adalah sungguh dianggap sebagai sebuah buah karya intelektual yang memiliki nilai ekonomi di masyarakat. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat yang  merupakan gelombang ekonomi kreatif dengan berorientasi pada ide dan gagasan kreatif.
Indonesia sendiri dalam Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2009-2015 (2008 didefinisikan Ekonomi Kreatif sebagai “Era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi, yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya.” Industri Kreatif dalam Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2009-2015 dianggap sebagai “Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut”.
Pengembangan ekonomi kreatif, di negara-negara lain saat ini menjadi prioritas utama, ekonomi kreatif antara lain di Tiongkok sebagai alutista untuk  mengurangi infiltrasi budaya asing dengan mewajibkan tayang animasi & sinetron local, sebagai brand maker untuk menggerakkan sektor ekonomi lainnya misal K-Pop oleh Samsung, Hyundai, Anime dimanfaatkan consumer brand Japan, Animasi dimanfatkan dalam budaya dan produk dagang Malaysia.


Ada beberapa hal yang menjadi factor penghambat Pembangunan di daerah Kita.

Kesimpulan
Berdasar empat Uraian diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Dengan demikian Marilah Kita Jadikan Kampar Yang Beridentitas Untuk mewujudkan Negeri yang Berbudaya, Berdaya Dalam Lingkungan Masyarakat Yang Agamis 2025 !!!

Buktikan Kampar Serambih Mekkah, Kampar Bumi Sari Madu, dan Bangkinang Kota Beriman.

Satenggi-Tenggi Tobangnyo Bangau Kan Baliok Ka Kubangan Juo
Mo Kito Bangun Kampuong Tompek Bakumpue Jo Sanak Saudagho !!!


Oleh : Mr. H. ILHAM DANAU
Ketua Umum Orsos Sendok Kabupaten Kampar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *