RAMUAN DAN CARA MANDI BALIMAU KASAI “ANTARA SIRIK DAN LOGIKA”

Aursati, Tambang, majalahsuluo.top – Acara tradisi balimau di kabupaten Kampar dari tahun ke tahun semakin ramai di kunjungi masyarakat. Bahkan salah satu kegiatan di kabupaten Kampar katanya sudah menjadi agenda tahunan dari pemerintah propinsi Riau. Balimau diadakan sehari menjelang memasuki bulan ramadhan yang diisi berbagai kegiatan bersifat keagamaan maupun adat istiadat. Makin trendnya acara balimau di masyarakat ocu belakangan ini, ternyata tidak menggambarkan nilai-nilai sesungguhnya dari tradisi balimau kasai itu sendiri bahkan cenderung menyimpang.

Terlepas dari nilai-nilai yang dimaksud, yaitu pembersihan jiwa dan raga dalam menyambut bulan suci Ramadan, majalahsuluo.top lebih tertarik mengetahui ramuan atau bahan limau kasai dan cara menggunakannya. Bahan limau dan kasai ini sekarang sangat jarang kita temukan sehingga membuat kita lupa makna dari kata balimau kasai walau berbagai event dinamai dengan nama tersebut.

Hari ini rabu (17/06/15) ketika kami mengunjungi orang tua kami di kecamatan Tambang. Kami menemukan kemasan limau dan kasai sudah berubah lebih modern dari yang dulu semasa kecil kami gunakan. Seingat kami dulunya limau dan kasai ini dibungkus dengan daun pisang yang dilayukan. Sekarang sudah dikemas dalam bungkusan plastik. Begitu kami tanyakan kepada ibu yang memperlihatkannya. Ternyata kata beliau isinya sama saja dengan bahan limau kasai dulunya.

Nah, ada 3 kelompok bahan dari alat mandi balimau ini. Pertama adalah limau atau jeruk, biasanya jeruk purut atau jeruk nipis yang telah direbus kemudian dipotong-potong apabila jeruknya kebesaran. Kedua adalah kasai atau lulur dalam bahasa indonesia. Lulur ini terbuat dari bahan; beras, akar rumput, kencur, kunyit, daun rumpun manis dan kemenyan yang disanggrai kemudian ditumbuk dan diayak. Bahan ketiga adalah bunga rampai yang terdiri dari bunga-bungaan yang harum biasanya bunga mawar, bunga tanjung dan pandan wangi.

Selain kegunaan limau dan kasai sebagai ramuan mandi sebagai bagian dari pembersihan raga, limau dan kasai juga dijadikan sarana pembersihan hati dan jiwa. Caranya adalah dengan memberikan Limau kasai kepada sanak saudara atau kerabat yang dikunjungi dan saling berma’af-ma’afan. Biasanya tradisi mengunjungi ini dilakukan oleh yang lebih muda mengunjungi yang lebih tua, seperti anak mengunjungi orang tua, menantu mengunjungi mertua, kemenakan (keponakan-red) mengunjungi paman dan seterusnya.


Tidak jelas apakah tradisi ini ada pengaruh kepercayaan Hindu atau animisme. Tapi masyarakat Ocu lebih menyakini penggunaan bahan tersebut adalah faktor sulitnya dulu mendapatkan shampo, sabun atau minyak wangi. Selama tidak dimasuki unsur sirik pastinya ini adalah salah satu kekayaan budaya Ocu Kampar yang harus dipertahankan.


Selanjutnya Kewajiban kita semua untuk meluruskan pemaknaan dalam penyelenggaraan perhelatan balimau kasai, agar tidak diartikan sebagai acara jalan-jalan, berpesta maksiat dan tindakkan dosa lainnya. Budaya bersilahturrahmi sehari menjelang Ramadan ini dilakukan untuk pembersihan diri lahir dan bathin menyambut bulan yang suci penuh berkah. (Nur)



 Cara Penggunaannya, ternyata Limau atau jeruk adalah untuk dilumuri di kepala seperti halnya kita berkeramas menggunakan shampoo. Kemudian Kasai atau Lulur adalah pembersih sebatang tubuh layaknya seperti kita menggunakan sabun. Bunga rampai adalah untuk pewangi air yang kita gunakan untuk mandi, layaknya seperti mandi kembang.
 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *