ABASRI : KESULITAN EKONOMI SENIMAN OCU KAMPAR BUKAN KESALAHAN PEMERINTAH

PENYASAWAN, Majalahsuluo.top – Abasri  atau yang lebih  akrab dipanggil “Mamak kabat” adalah salah seorang dari sekian banyak seniman di Kabupaten Kampar. Disamping menciptakan lagu, Mamak Kabat lebih dikenal sebagai seorang komedian atau pelawak. Ia sering memerankan karakter-karakter lucu di VCD lagu dan Film Ocu Kampar yang selalu berhasil membuat kita terbahak.

Kebetulan yang Mujur Majalahsuluo.top bertemu Mamak sore ini di sebuah kedai kopi di desa Penyasawan (Rabu 20 /05/2015). Di kedai inilah Mamak setiap sore setelah menutup Bengkel Sepeda miliknya untuk melepas lelah seraya menunggu Magrib. Kami duduk semeja dan hidangan kopi dan sate pun telah sedia oleh pelayan di situ. Sambil Makan sesekali mamak membuat kami tertawa.

Setelah acara makan selesai, sambil mamak ngopi kami berbincang serius. Mamak memulai cerita dari kehidupan seni yang dilaluinya puluhan tahun belakangan ini. Mamak mengungkapkan sebagai seorang seniman pencipta lagu, pemain drama dan bintang iklan radio yang ia tekuni tidak memberikan pendapatan yang layak. “ Makanya hingga sekarang terpaksa masih buka bengkel” Katanya sambil tertawa.

Dalam Hal Kesulitan ekonomi para pelaku seni lagu Ocu sampai saat ini, Pendiri Komunitas SENDOK (Seniman Daerah Ocu Kampar) ini memandang bahwa kesalahan terletak di tangan pekerja seni dan masyarakat Kampar itu sendiri, bukanlah kesalahan pemerintah.
“Seniman kita mana pernah mau kompak dan bersatu? pemerintah selalu siap membantu kalau kitanya memang minta dibantu, masalah uang selalu saja pemerintah itu punya uang ,tapi apakah pantas kita layak menggunakan uang tersebut, ujung-ujungnyakan digunakan untuk Bang saku (red: masuk kantong pribadi)”kata mamak berkobar.

Mamak melanjutkan, “Pemerintah selalu memberikan dana kepada organisasi atau kelompok seni kita namun sering  digunakan untuk kepentingan pribadi dan beberapa orang saja, sehingga tidak akan berbuah untuk jangka panjang, sekarang harus kita rubah, untuk itulah kami dirikan Orsos Sendok”. Jelasnya.

Mamak juga sangat menyayangkan kurangnya dukungan masyarakat Kampar terhadap hasil karya seni daerah sendiri, hal ini tercermin pada sikap masayarakat yang sering kali mencemo’oh karya seni  dan pekerjanya. “Mereka bangga dengan Kampar tapi tidak bangga dengan budaya Ocu” ujar mamak tertawa. 

Layaknya seperti sedang membawakan sebuah adegan berpidato mamak mengatakan “ Maka marilah berkarya sebaik mungkin, saling mendukung dan bersatu, saling memberi dan berbagi, jangan lengah, Tukuok manukuok kek nan kughang, sisik manyisik kek nan ado (Saling Mengisi dan melengkapi), janganlah saling menyalahkan, Hargai seni budaya kita Ocu, Kalau ndak awak siapo tio le(kalau bukan kita siapa lagi)  he…he..”tandas mamak, lalu minta izin untuk pulang karna magrib hampir menjelang.(Del)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *